Tuesday, March 4, 2014

Saya dan Dia

Kahlil Gibran dan pemikiran jeniusnya tentang "cinta adalah anak keturunan dari kecocokan jiwa" saat ini sedang benar-benar memabukkan saya.

Saya mengenal makhluk ini sekitar 5 bulan lalu. Saat itu dia masih berstatus mahasiswa baru nan unyu-unyu. Sedang berusaha fit in di semester pertamanya. Tampilannya yang cuek dan ngomongnya dikit-dikit tapi nyelekit memang sangat sulit untuk dilewatkan.

Dan saya pun terpesona..

Adalah suatu subuh saat kami pertama kali berbagi tentang hal yang seharusnya tidak lazim kami bagi pada orang asing. Sisi hidup manusia yang semestinya tetap menjadi misteri. Saat itu label 'orang asing' yang melekat pada jidat kami masing-masing pun luruh. Welcome to my life, M!

Saya tahu saya sangat kesulitan saat harus mendefinisikan tentang 'kami'.
Saya dan M.
Saya merasa penuh dan lengkap saat bersama dia.
Saya berdebar dan sekaligus teduh damai saat sosoknya muncul disekitar saya.
Saya melihatnya sebagai contoh kata 'sempurna'.

Saya tidak bisa memikirkan ini. Tidak, saya tidak mau berpikir. Perasaan ini aneh, nyata dan berbahaya.


No comments:

Post a Comment