Untuk kesekian kalinya saya harus melepaskan perasaan. Untuk kesekian kalinya saya harus merelakan cinta pergi. Bukan karena saya loser. Saya hanya percaya ini bukan untuk saya. Atau saya merasa saya percaya ini bukan untuk saya.
Benar, saya terluka. Saya kehilangan.
Ternyata saya telah sangat mencintainya.
Saya butuh dia untuk percaya bahwa hari ini berjalan dengan baik.
Tapi saya lelah. Saya lelah berlari mengejar kenyamanan bersamanya.
Dan sa lelah berpura-pura melihatnya dengan cara berbeda.
Tentang perasaan ini,
Saya hanya bisa menahan, tidak mengontrolnya.
Maaf sahabat, saya cinta kamu.
Gymnastic Toes
Tuesday, April 29, 2014
Wednesday, March 12, 2014
Something Stupid
Subuh ini keadaan tidak banyak berbeda. Dia masih duduk diseberang sana, menolak untuk masuk ke dalam kamarnya dan beristirahat dengan alasan "i'm not tired". And here I am, sitting on the couch across the table and trying to focus on my very capstone while repeatedly got distracted by dia.
Religiously listening to "Something Stupid" by Michael Buble and Reese Witherspoon.. Over and over..
And then I go and spoil it all by saying something stupid like I love you.. Darn!
Dari beberapa jam lalu dengan bercanda dia mengingatkan saya tentang janji kencan kami di bioskop besok. KENCAN. Ya, dia memakai kata itu dan memastikan dengan menolak permintaan teman untuk bergabung dengan kami dengan menggunakan istilah 'the third wheel'. Saya hampir pingsan di dapur sebelum saya akhirnya bisa mengusai diri dan dengan penuh percaya diri tidak melanjutkan 'candaan' tersebut.
Sunday, March 9, 2014
Katakan A saat meminta Z
Gampang sekali membodohi manusia ini. Katakan A dan dia akan berada di Z. Katakan 0 adalah benar, maka dia akan gigih membela angka 1. Katakan pergi maka dia akan tinggal.
Rasanya sekarang saya paham perasan seorang teman beberapa tahun lalu. Sahabat yang mencintai saya dalam diam-nya selama beberapa tahun lamanya. Saat itu saya murka dan merasa dikhianati. Padahal saya paham bahwa cinta tidak bisa dipaksa. Dia datang sekonyong-konyong dan tanpa peringatan. Cinta tidak peduli apakah sama atau berbeda. Dia tiba begitu saja. Dan saya merasa sangat tersakiti padahal sejatinya saya baik-baik saja.
Sekarang saya tercenung, apa yang kelak dikatakan si 'dia' ini saat dia mengetahui bahwa sahabatnya mencintai dia seperti ini. Bahwa sahabatnya begitu ingin mengecup bibir-nya..
Dan begitulah saya malam ini..
Saya memintanya pergi tanpa berharap dia beranjak. Maafkan saya. Saya hanya terlalu lemah menghadapi hati sendiri. Saya terlalu culas memamfaatkan sisi lemahnya itu.
Dan sekarang, saya menang. Saya menang karena saya leluasa memandangmu dalam gelap, saat kita berkeras tidak mau meninggalkan ruangan ini. Atau tepatnya, karena ego-nya tidak mengijinkan dia dikalahkan oleh 'perintah' saya.
Untuk kamu yang berada 3 langkah dari saya. Saya merindukanmu..
Rasanya sekarang saya paham perasan seorang teman beberapa tahun lalu. Sahabat yang mencintai saya dalam diam-nya selama beberapa tahun lamanya. Saat itu saya murka dan merasa dikhianati. Padahal saya paham bahwa cinta tidak bisa dipaksa. Dia datang sekonyong-konyong dan tanpa peringatan. Cinta tidak peduli apakah sama atau berbeda. Dia tiba begitu saja. Dan saya merasa sangat tersakiti padahal sejatinya saya baik-baik saja.
Sekarang saya tercenung, apa yang kelak dikatakan si 'dia' ini saat dia mengetahui bahwa sahabatnya mencintai dia seperti ini. Bahwa sahabatnya begitu ingin mengecup bibir-nya..
Dan begitulah saya malam ini..
Saya memintanya pergi tanpa berharap dia beranjak. Maafkan saya. Saya hanya terlalu lemah menghadapi hati sendiri. Saya terlalu culas memamfaatkan sisi lemahnya itu.
Dan sekarang, saya menang. Saya menang karena saya leluasa memandangmu dalam gelap, saat kita berkeras tidak mau meninggalkan ruangan ini. Atau tepatnya, karena ego-nya tidak mengijinkan dia dikalahkan oleh 'perintah' saya.
Untuk kamu yang berada 3 langkah dari saya. Saya merindukanmu..
Tuesday, March 4, 2014
Saya dan Dia
Kahlil Gibran dan pemikiran jeniusnya tentang "cinta adalah anak keturunan dari kecocokan jiwa" saat ini sedang benar-benar memabukkan saya.
Saya mengenal makhluk ini sekitar 5 bulan lalu. Saat itu dia masih berstatus mahasiswa baru nan unyu-unyu. Sedang berusaha fit in di semester pertamanya. Tampilannya yang cuek dan ngomongnya dikit-dikit tapi nyelekit memang sangat sulit untuk dilewatkan.
Dan saya pun terpesona..
Adalah suatu subuh saat kami pertama kali berbagi tentang hal yang seharusnya tidak lazim kami bagi pada orang asing. Sisi hidup manusia yang semestinya tetap menjadi misteri. Saat itu label 'orang asing' yang melekat pada jidat kami masing-masing pun luruh. Welcome to my life, M!
Saya tahu saya sangat kesulitan saat harus mendefinisikan tentang 'kami'.
Saya dan M.
Saya merasa penuh dan lengkap saat bersama dia.
Saya berdebar dan sekaligus teduh damai saat sosoknya muncul disekitar saya.
Saya melihatnya sebagai contoh kata 'sempurna'.
Saya tidak bisa memikirkan ini. Tidak, saya tidak mau berpikir. Perasaan ini aneh, nyata dan berbahaya.
Saya mengenal makhluk ini sekitar 5 bulan lalu. Saat itu dia masih berstatus mahasiswa baru nan unyu-unyu. Sedang berusaha fit in di semester pertamanya. Tampilannya yang cuek dan ngomongnya dikit-dikit tapi nyelekit memang sangat sulit untuk dilewatkan.
Dan saya pun terpesona..
Adalah suatu subuh saat kami pertama kali berbagi tentang hal yang seharusnya tidak lazim kami bagi pada orang asing. Sisi hidup manusia yang semestinya tetap menjadi misteri. Saat itu label 'orang asing' yang melekat pada jidat kami masing-masing pun luruh. Welcome to my life, M!
Saya tahu saya sangat kesulitan saat harus mendefinisikan tentang 'kami'.
Saya dan M.
Saya merasa penuh dan lengkap saat bersama dia.
Saya berdebar dan sekaligus teduh damai saat sosoknya muncul disekitar saya.
Saya melihatnya sebagai contoh kata 'sempurna'.
Saya tidak bisa memikirkan ini. Tidak, saya tidak mau berpikir. Perasaan ini aneh, nyata dan berbahaya.
Single. Happy?
Saat ini saya semakin mendekati angka 31 tahun. Rasanya tidak percaya, jujur saja. Kenapa? Sederhana, saya selalu percaya kalau saya adalah gadis 15 tahun yang terperangkap dalam tubuh wanita 30 tahun. Ah saya tertawa ngakak guling-guling waktu menulis kalimat ini.
Ah ya, saya selalu terjebak pada rasa bangga yang berlebihan saat orang-orang keliru menebak umur saya. 22, 23, less than 25, bahkan 18 adalah angka yang biasa mereka sebut saat menebak umur saya.. Saat itulah saya merasa aaahh life is good.. Thanks God for this blessing.. I mean, my anti-aging body.. :P
Beranjak menua (aiiish) artinya semakin banyak tanggung jawab dan kenyataan yang mesti, doyan gak doyan, dihadapi dengan gagah berani.. Pertanyaan adalah apakah saya cukup berani? Mungkin iya. Mungkin loh yaaa....
Tapi masih saja saya merasa terancam kalau harus membahas tentang satu hal prinsipil dg Kanjeng Ratu Ibu Mama Sri Swi, alias si emak. Tentang apa? Yah tentang apa lagi kalo bukan urusan kawin mengawin. Si emak selalu curiga kalo saya lebih enjoy hidup sendiri daripada berdua dengan pasangan. Dan sayangnya si emak bener sekali.. Sejauh ini..
Banyak teman yang, rata-rata sih rada keji, kalau membahas tentang urusan jodoh dengan saya. Katanya saya terlalu milih-milih.. Aiiiihh.. Beli sayur di pasar saja harus milih, masa sih pilih suami enggak?
Well, sebenarnya sih saya gak punya alasan kuat kenapa belum mau serius cari jodoh. Jodohnya belum datang. Itu saja sih. Kenapa juga saya gak mau membuka diri? Ih pameran pembangunan kali dibuka.. Saya masih percaya, wanita hanya harus menunggu sang pria-nya datang. Pria saya hanya belum datang jadi saya hanya harus menunggu.
Terus apa saya happy dalam penantian ini? *uhukk uhuukk..
Jawabannya lagi-lagi ngambang kayak ikan mati di kali. Mungkin.
Setahu saya sih saya tidak buru-buru. Saya punya sahabat-sahabat yang luar biasa. Saya punya keluarga yang baik dan membanggakan. Saya punya karir yang baik. Saya sehat. Saya tidak bermasalah.
Saya bahagia? Mestinya..haahahaha :)
Dan hari ini saya semakin bahagia karena akhirnya saya punya blog untuk curhat curhit.. Hihihihi..
Sampai jumpa di curhat-curhat berikutnya yaaa! :P
Ah ya, saya selalu terjebak pada rasa bangga yang berlebihan saat orang-orang keliru menebak umur saya. 22, 23, less than 25, bahkan 18 adalah angka yang biasa mereka sebut saat menebak umur saya.. Saat itulah saya merasa aaahh life is good.. Thanks God for this blessing.. I mean, my anti-aging body.. :P
Beranjak menua (aiiish) artinya semakin banyak tanggung jawab dan kenyataan yang mesti, doyan gak doyan, dihadapi dengan gagah berani.. Pertanyaan adalah apakah saya cukup berani? Mungkin iya. Mungkin loh yaaa....
Tapi masih saja saya merasa terancam kalau harus membahas tentang satu hal prinsipil dg Kanjeng Ratu Ibu Mama Sri Swi, alias si emak. Tentang apa? Yah tentang apa lagi kalo bukan urusan kawin mengawin. Si emak selalu curiga kalo saya lebih enjoy hidup sendiri daripada berdua dengan pasangan. Dan sayangnya si emak bener sekali.. Sejauh ini..
Banyak teman yang, rata-rata sih rada keji, kalau membahas tentang urusan jodoh dengan saya. Katanya saya terlalu milih-milih.. Aiiiihh.. Beli sayur di pasar saja harus milih, masa sih pilih suami enggak?
Well, sebenarnya sih saya gak punya alasan kuat kenapa belum mau serius cari jodoh. Jodohnya belum datang. Itu saja sih. Kenapa juga saya gak mau membuka diri? Ih pameran pembangunan kali dibuka.. Saya masih percaya, wanita hanya harus menunggu sang pria-nya datang. Pria saya hanya belum datang jadi saya hanya harus menunggu.
Terus apa saya happy dalam penantian ini? *uhukk uhuukk..
Jawabannya lagi-lagi ngambang kayak ikan mati di kali. Mungkin.
Setahu saya sih saya tidak buru-buru. Saya punya sahabat-sahabat yang luar biasa. Saya punya keluarga yang baik dan membanggakan. Saya punya karir yang baik. Saya sehat. Saya tidak bermasalah.
Saya bahagia? Mestinya..haahahaha :)
Dan hari ini saya semakin bahagia karena akhirnya saya punya blog untuk curhat curhit.. Hihihihi..
Sampai jumpa di curhat-curhat berikutnya yaaa! :P
Subscribe to:
Posts (Atom)